Aku Panggil Dia Papa

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa

Benturan dan hempasan terpahat di keningmu

Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras namun kau tetap tabah ...

Meski nafasmu kadang tersengal 

memikul beban yang makin sarat

kau tetap bertahan


Reff:

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini

Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan

Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari kini kurus dan terbungkuk ... 

Namun semangat tak pernah pudar 

meski langkahmu kadang gemetar

kau tetap setia


Ayah, dalam hening sepi kurindu

untuk menuai padi milik kita

Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan

Anakmu sekarang banyak menanggung beban


(Lirik lagu Ebiet G. Ade - Titip Rindu Buat Ayah)


Sosok lelaki ini tampil dengan sederhana dan tidak banyak bicara. Kalau ditanya pun, dia hanya menjawab seadanya. Tetapi sekalinya dia bicara, tidak ada satu pun yang berani membantahnya. Ada nada tegas dan berwibawa dalam setiap ucapan yang keluar dari mulutnya.

Semenjak berumur 5 tahun telah dipaksa menghadapi kerasnya dunia ini tanpa didampingi oleh sosok seorang ayah. Dibesarkan oleh seorang ibu sebagai anak sulung dari sembilan bersaudara, secara tidak langsung telah memberikan dia semacam tanggung jawab untuk membantu meringankan beban ibunya.

Walau pun kehidupan masa mudanya sempat menjalani kehidupan yang penuh hura-hura dan mengikuti pergaulan anak muda tahun 70-an, tetapi semua itu rela ia tinggalkan ketika melabuhkan hati pada seorang gadis tambatan hatinya. Seiring dengan tumbuhnya rasa tanggung jawab terhadap keluarga, sehingga pekerjaan menjadi petani yang tidak pernah terlintas dipikirannya semasa muda rela ia jalani.

Wajahnya selalu penuh dengan semangat dan tak pernah kelihatan lelah. Baginya tidak ada kata menyerah sebelum ada usaha dan kerja keras. Seorang lelaki harus bertanggung jawab dan tidak ada kata menyerah dalam kehidupan seorang lelaki, itu yang selalu diajarkannya kepada anak-anaknya.

Saya dan adik-adik memanggilnya dengan sebutan PAPA. Sebuah sebutan yang sempat mendapat cibiran dari orang sekitar, karena menurut pendapat mereka tidak cocok keluarga petani miskin menggunakan sebutan papa dan mama bagi anak-anaknya. Setelah beberapa tahun  kemudian baru saya mengetahui alasan kenapa kami dibiasakan memanggil orangtua dengan sebutan papa dan mama.

Alasan utamanya agar terbentuk semacam kepercayaan diri dan kami tidak merasa minder kelak ketika menempuh pendidikan yang lebih tinggi, apalagi kalau kuliah di kota besar. Karena pada waktu itu yang menggunakan sebutan papa dan mama kebanyakan adalah keluarga menengah ke atas, kalau di kampung-kampung saat itu lebih banyak menggunakan sebutan emak dan bapak. Sebuah pemikiran yang luar biasa dan melampau zamannya pada saat itu menurut saya.

Karena keterbatasan ekonomi dan kondisi masa kecil yang kurang beruntung, sehingga papa hanya menyelesaikan pendidikan sampai tamat sekolah dasar. Tetapi papa tidak ingin kejadian itu terulang kembali kepada anak-anaknya. Pendidikan anak-anak adalah hal yang utama, apa pun akan dilakukannya agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak.

Papa rela berjemur dari pagi sampai sore mengolah lahan pertanian, tanpa peduli dengan kondisi hujan atau panas. Selain itu papa juga bersedia memelihara hewan ternak khususnya sapi pedaging untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Ketika masih ada waktu luang, papa juga masih menerima borongan jahitan baju atau celana. Baginya tidak ada waktu yang terbuang percuma, setiap detik waktu itu sangat berharga. Sama dengan berharganya setiap tetes air pada musim kemarau, tidak ada yang boleh disia-siakan.

Seperti lirik lagu di atas, walau pun keringat mengucur deras, nafas kadang tersengal karena beban yang semakin sarat tetapi dia tetap bertahan. Sampai saat ini, walau pun usianya tidak muda lagi dan keriput  wajah sudah mulai terlihat tetapi tidak pernah sedikit pun dia menampakkan rasa letih dan lelah. Bagi dia selama hayat masih di kandung badan, pantang terucap kata menyerah.

Bagi saya pribadi, papa adalah sosok pribadi yang menjadi inspirasi dan teladan dalam menghadapi hidup ini. Walau pun keras dan tegas dalam mendidik, tetapi jauh di lubuk hatinya tersimpan rasa sayang kepada kami anak-anaknya. Jarang terdengar pujian dan canda  tawa meluncur dari bibirnya, tetapi semua itu tidak mengurangi rasa sayangnya pada kami.

Tanpa kerasnya tempaan serta tegasnya papa dalam mendidik, tidak mungkin saya bisa meraih semua yang ada saat ini. Hanya satu kata yang bisa terucap dari mulut ini ... Papa I Love you !!!


  Dapatkan buku terbaru saya yang berjudul "Yakin Gak mau Nulis? ; Hidup Sekali Gak Nulis Rugi"


Comments

  1. No Comments

Add Comment

Testimonial

Dalam buku BREAK THE LIMITS ini, saya paling suka dengan quote mas Denni saat mengatakan bahwa tinda... read more

Windy Rose

Gara-gara membaca bukunya mas Denni yang berjudul "Break The Limits" jadi susah untuk mencari alasan... read more

Dian Suprayogi

Salah seorang penulis bak mutiara terpendam dari Pulau Bangka. Buku "Break The Limits" yang ditulis ... read more

Brili Agung

Facebook

Twitter