DAYYUTS – Akhlak Tercela Yang Dianggap Mulia


 

Seorang ayah yang membiarkan, apalagi mendukung putrinya berpacaran mesra dengan seorang pria, orang akan mengatakan bahwa dia adalah seorang bapak yang bijaksana.

Seorang suami yang rela istrinya selingkuh atau membiarkannya bergaul akrab dengan pria lain, orang mengatakan dia suami yang sabar, tabah, ikhlas dan pengertian.

Begitu opini yang berkembang. Orang yang tidak memiliki sifat cemburu di sifati dengan karakter mulia, penuh pengertian & lapang dada.

Sedangkan orang yang memiliki gairah kecemburuan disifati dengan temperamental, sumbu pendek atau dinilai pikirannya belum dewasa. Wal iyadzubillah…

Pandangan ini berseberangan dengan arahan syari`at yang menempatkan ghiroh kecemburuan secara proposional, kecemburuan adalah rasa tidak sukanya hati terhadap campur tangan orang lain dalam hal yang menjadi haknya secara khusus. Dengan ghirah ini, seseorang akan berusaha menjaga & mencegah sesuatu yang menjadi tanggungannya dari bahaya dan kerusakan.

Orang yang memiliki ghirah teradap Islam akan marah jika Islam dihina, dia juga akan berjuang untuk membelanya. Begitupun orang yang memiliki kecemburuan terhadap istri dan anak-anaknya, dia tidak akan membiarkan keburukan dan perbuatan keji terjadi atas mereka. Karena itulah, jika sikap cemburu tiada, maka tak akan ada kebaikan pada dirinya.

Rasulullah Shallallahu`alaihi wa sallam bersabda : “Ada tiga golongan yang tidak akan dilihat oleh ALLAH pada hari kiamat nanti. Yaitu : Orang yang durhaka kepada kedua orang tua, Perempuan yang menyerupai lelaki dan AD-DAYYUTS.” (HR. An-Nasa`i)

Dalam riwayat lain disebutkan,

Ada tiga golongan manusia yang tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat; Anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, Perempuan yang menyerupai laki-laki dan dayyuts yaitu kepala rumah tangga membiarkan kemungkaran dalam rumah tangganya.” (HR. Hakim, Baihaqi dan Ahmad).

Pengertian Ad Dayyuts

Dari hadits di atas, maka dapat ditarik makna ad dayyuts yaitu, laki-laki atau kepala keluarga (suami) yang tidak ada kecemburuan melihat istrinya serong atau membiarkan kemungkaran terjadi atas keluarganya.

Karena tidak ada rasa cemburu tersebut, ia membiarkan perbuatan keji terjadi di tengah-tengah keluarganya. Ibu, kakak, istri dan putrinya dibiarkan bebas keluar rumah tanpa berhijab dan menutup aurat dengan rapat, sedangkan putranya diberi peluang besar untuk bermaksiat dan berpacaran.

Celakanya lagi, ia malah bangga bila kecantikan dan penampilan istri dan putrinya ditonton banyak orang, hanya demi mendapat pujian serta sanjungan dari segelintir manusia saja. Para lelaki asing pun dibiarkan dengan leluasa berbicara dan bercengkerama dengan mereka. Hingga akhirnya si istri berselingkuh dan anak-anaknya pun terjerumus ke dalam lembah dan jurang kemaksiatan, na’udzubiLlah…

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah ketika menjelaskan dampak buruk perbuatan maksiat, di antaranya adalah perbuatan ad-dayyuts yang timbul karena lemah atau hilangnya sifat ghiirah (cemburu dan marah ketika syariat Allah dilanggar) dalam hati pelakunya. Beliau berkata, “. . . . Oleh karena itulah, ad-dayyuts adalah makhluk Allah yang paling buruk dan diharamkan masuk surga. Demikian juga orang yang membolehkan dan menganggap baik perbuatan zhalim dan melampaui batas bagi orang lain. Maka perhatikanlah akibat yang ditimbulkan karena lemahnya sifat ghiirah (dalam diri seseorang)”.

Beliau melanjutkan, “Ini semua menunjukkan bahwa asal pokok agama seseorang adalah sifat ghiirah (kecemburuan). Barangsiapa yang tidak memiliki sifat ghiirah maka berarti dia tidak memiliki agama (iman). Karena sifat ghiirah inilah yang akan menghidupkan hati (manusia) yang kemudian akan menghidupkan anggota tubuhnya, sehingga anggota tubuhnya akan menolak perbuatan buruk dan keji”.

“Sebaliknya, hilangnya sifat ghiirah akan mematikan hatinya, yang kemudian akan mematikan kebaikan anggota tubuhnya, sehingga sama sekali tak ada penolakan terhadap keburukan dalam dirinya. . .“ (Kitab Ad-Da-u wad Dawaa’, hal. 84).

Jika seorang bapak atau suami bersikap diam dan merasa aman terhadap isteri dan anaknya yang sudah terperangkap dalam adat jahiliyah, atau telah melanggar syari’at Islam, maka suami atau bapak seperti inilah yang dinamakan dayyuts.

Sikap suami yang membiarkan isteri dan anak-anaknya berbuat kejelekan dalam rumah tangganya sangat berbahaya. Ia membiarkan anak dan isterinya meninggalkan shalat, membiarkan mereka mengkonsumsi makanan dan minuman yang haram. Ia menganggap baik perbuatan keji, zina beserta sarana yang membawa kepada zina. Ia tidak merasa cemburu pada perbuatan isteri dan anak-anaknya, bahkan ia membiarkan mereka berbuat maksiat. Wal iyadzu biLlah…

Maka, kelak dia akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah di hari kiamat.

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketauhilah, kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Penguasa adalah pemimpin atas rakyatnya dan bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya. Laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang perempuan juga pemimpin bagi rumah suami dan anak-anaknya dan ia bertanggung jawab atas itu semua, seorang hamba sahaya bertanggung jawab terhadap harta tuannya.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Jagalah Dirimu dan Keluargamu …!!!

Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At-Tahrim : 6)

Para ulama salaf menjelaskan makna jagalah dirimu dan keluargamau dari api neraka, sebagai berikut :

1. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata : “Beramallah dengan taat kepada Allah, takut
berbuat maksiat, dan perintahkan keluargamu agar ingat hukum-hukum-Nya, niscaya Dia akan menyelamatkanmu dari api neraka.”

2. Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata : “Ajarkanlah akhlak dan kebaikan budi pekerti
kepada mereka.”

3. Mujahid rahimahullah berkata : “Takutlah kepada Allah dan nasehatilah keluargamu supaya bertaqwa kepada-Nya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/412-413)

Beberapa Pelajaran Dari ayat di atas :

1. Wajib bagi seseorang untuk memerintahkan dan mendorong keluarganya mengerjakan yang ma’ruf, melarang dan menghardik mereka berbuat yang mungkar. Dia harus memerintahkannya mengerjakan shalat, menunaikan zakat, menjalankan puasa dan semua kewajiban Islam. Memerintahkan mereka berakhlak dengan akhlak yang baik dan adab yang bagus, mendorong mereka melaksanakan amal-amal yang utama, seperti membaca Al-Qur’an, mempelajari ilmu yang bermanfaat.

2. Kepedihan siksa dan balasan yang disediakan oleh Allah bagi musuh-musuhNya,  di dalam ayat Allah yang mulia ini, memberitahukan bahwa bahan bakar api neraka yang dijadikan sebagai alat untuk menyalakan api neraka adalah bangkai-bangkai anak Adam dan batu-batu yang berasal dari batu bara yang hitam. Dan di dalam ayat yang lain Allah telah menjelaskan tentang keganasan dan kekuatan api tersebut. Allah berfirman :

كَلَّا إِنَّهَا لَظَى نَزَّاعَةً لِّلشَّوَى تَدْعُو مَنْ أَدْبَرَ وَتَوَلَّى وَجَمَعَ فَأَوْعَى

Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak, Yang mengelupaskan kulit kepala, Yang memanggil orang yang membelakang dan yang berpaling (dari agama). Serta mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya”. (QS. Al-Ma’arij : 15-18)

Allah juga berfirman :

وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُلَا تُبْقِي وَلَا تَذَرُلَوَّاحَةٌ لِّلْبَشَرِ

“Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu?. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. Neraka Saqar adalah pembakar kulit manusia”. (QS. Al-Mudatstsir : 27-29)

3. Menetapkan bahwa malaikat ada dan wajib diimani, dan mereka memiliki golongan-golongan. Penjaga neraka ditugaskan untuk menyiksa penghuni neraka dan menghinakan mereka, dan jumlah mereka seperti apa yang disebutkan oleh Allah adalah sembilan belas, Allah berfirman : 

عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ)

“Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).” (QS. Al-Mudatsir : 19)

Dan tokoh besar malaikat ini bernama Malik. Allah berfirman :

وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُم مَّاكِثُونَ

Mereka berseru ” “Hai Malik, biarkanlah Tuhanmu membunh kami saja”. Dia menjawab : “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini). (QS. Az-Zukhruf : 77)

4. Seharusnya bagi seorang muslim untuk menjaga diri dan seluruh keluarganya dari api neraka. Keinginan untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka ini bisa diwujudkan walaupun dengan perkara yang paling kecil dari kebaikan.

اللهم صلى على نبينا محمد و على آله و اصحابه و سلم

وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

اخير الدعوانا، ان الحمد لله رب العلمين

Team Asaatidz AHQ

(Sumber : Kajian Online (KOL) AHQ, Minggu : 18 Januari 2015)


About Denni Candra

Denni Candra adalah seorang konsultan dan penulis yang rutin menulis di beberapa media diantaranya Harian BERNAS Jogjakarta dan beberapa media lokal di Bangka serta menjadi kontributor artikel di www.level-up.id dan www.inspirasi.co. Selain itu juga fokus menjadi seorang ghost & co-writer buat siapa saja yang ingin dibantu menulis dan menyelesaikan bukunya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *