Dilema Kata “Jangan”


dennicandra.com, Kemarin siang ketika lagi asyik membaca sebuah buku tiba-tiba masuk pesan BBM dari seorang saudara yang menanyakan tentang penggunaan kata “Jangan” dalam pengasuhan anak.

“Bang, barusan saya membaca artikel dari sebuah media online tentang kekeliruan penggunaan kata “Jangan” kepada anak. Bagaimana tanggapan abang tentang hal tersebut?”

Setelah itu kami sempat terlibat sedikit diskusi dan saya berikan penjelasanan serta tanggapan mengenai hal itu sesuai dengan pengetahuan dan ilmu yang saya dapatkan di  NLP dan Parenting. Salah satunya acuan saya yaitu artikel yang ditulis oleh mas Teddy Prasetya, salah seorang pakar NLP dalam webnya www.IndonesiaNLPSociety.org dan www.TeddiPrasetya.com

Berikut saya sharing artikel tersebut dengan Anda semua dan semoga menjawab kebingungan dan kegamangan kita mengenai  penggunaan kata “Jangan” selama ini.

Di masa awal saya belajar NLP, kerap terdengar bahasan bahwa pikiran kita tak mengenal kata negasi. Maka kita tidak dianjurkan menggunakan kata ‘jangan’, misalnya. Sebab berkata ‘jangan marah’, hanya akan membuat seseorang memikirkan kemarahan. Lebih baik, ujar bahasan itu dulu, langsung saja gunakan kalimat semacam, ‘tenanglah’. Anjuran serupa ini cukup populer pada masanya, sehingga banyak orang berduyun-duyun untuk menghindari penggunaan kata jangan dan sejenisnya.

Dulu, saya sempat amat meyakini hal ini. Sampai pada satu waktu sebuah pertanyaan pun muncul dalam diri: masak sih kata jangan tidak bisa digunakan? Kalau kata jangan dan semisalnya tidak bermanfaat, mengapa ia ada? Bukankah setiap kata memiliki fungsi masing-masing?

Penelusuran pun berlanjut, hingga akhirnya saya mendapati sebuah penjelasan yang lebih masuk akal. Tentunya ada pakar bahasa yang lebih kompeten dan lebih dulu menerangkan hal ini. Saya hanya baru bisa memahaminya saja.

Kata negasi, memiliki fungsi seperti rem dalam kendaraan. Apa jadinya kendaraan tanpa rem? Tentulah akan membawa pengemudinya pada kecelakaan. Rem, sama pentingnya dengan gas. Memang, kita tidak bisa sampai tujuan hanya dengan menginjak rem. Kita bisa sampai tujuan sebab kendaraan kita di-gas dan diarahkan ke tujuan. Tapi hanya menginjak pedal gas melulu tanpa pernah mengerem pun hanya akan menyampaikan kita ke rumah sakit terdekat. Sebab tak ada jalan yang terlalu lurus, sehingga kita tidak perlu menyesuaikan arah kendaraan. Dan ketika sebuah jalan berkelok, kita perlu melepaskan pedal gas, dan memainkan pedal rem sebagai gantinya. Begitu pun ketika macet serupa di Jakarta ini. Meski jalan lurus, kita mesti banyak-banyak memainkan irama rem dan gas, sebab banyak kendaraan di hadapan. Hanya mengandalkan gas di kondisi macet berarti akan menjadikan diri kita masuk berita di koran esok pagi. Hehehe…

Maka kalimat ‘buanglah sampah ada tempatnya’, itu tak menggantikan ‘dilarang buang sampah disini’. Keduanya sama-sama memiliki fungsi. Kata negasi serupa ‘dilarang’ atau ‘jangan’—ibarat rem—berfungsi menjadi penanda untuk menafikan apa yang dinegasikan. Kalimat ‘jangan ngebut’ itu penting, sebab memang ngebut itu berbahaya. Kita memang perlu tahu dan sadar akan bahayanya. Dan kata negasi berfungsi untuk mencegah kita melakukannya. Posisi kalimat ‘jangan ngebut’ sungguh setara dengan kalimat ‘maksimum kecepatan 10km/jam’. Yang kedua tidak menggantikan yang pertama.

Maka dalam ajaran agama, memang bertebaran penggunaan kata negasi seperti ‘jangan berzina’, ‘jangan menyekutukan Allah’, dll. Sebab perbuatan-perbuatan buruk itu nyata adanya, kita mungkin terjerumus, maka kita perlu mengenalinya—ya, perlu memikirkannya—dan mencegah diri darinya.

Jadi boleh kah kita menggunakan kata negasi?

Ya boleh banget. Ia sama pentingnya dengan mengucapkan kalimat dalam bentuk yang positif.

Salam CintaBahagia

Mau provokasi lebih lanjut ? Follow saya di twitter @CandraDenni


About Denni Candra

Denni Candra adalah seorang konsultan dan penulis yang rutin menulis di beberapa media diantaranya Harian BERNAS Jogjakarta dan beberapa media lokal di Bangka serta menjadi kontributor artikel di www.level-up.id dan www.inspirasi.co. Selain itu juga fokus menjadi seorang ghost & co-writer buat siapa saja yang ingin dibantu menulis dan menyelesaikan bukunya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *