Janji Muluk Pesantren Kilat Ramadhan


Denni Candra

dennicandra.com, Saya tidak sedang ingin berpolemik atau sengaja memprovokasi dengan judul artikel di atas. Juga bukan karena saya beranggapan bahwa kegiatan pesantren kilat Ramadhan tidak penting dan merupakan sesuatu hal yang sia-sia. Tetapi saya hanya mencoba untuk mengetuk kesadaran kita semua untuk kembali kepada esensi bahwa dalam pendidikan tidak ada sesuatu yang bisa dihasilkan secara instan. Pendidikan adalah proses panjang dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan untuk mendapatkan hasil terbaik di masa depan. Jadi dalam mendidik dan penanaman nilai berlaku ungkapan “mendidik tidak bisa mendadak, mendadak juga tidak bisa dalam mendidik.”

Kembali ke masalah pesantren kilat Ramadhan, saya tidak mengkritisi kegiatan yang memang bersifat positif tersebut. Yang saya kritisi adalah mengenai tema yang diusung serta janji-janji manis yang diumbar dalam beberapa kegiatan tersebut. Pada beberapa kegiatan pesantren kilat Ramadhan saya temui beberapa tema yang diusung diantaranya :

“Membentuk generasi Islam yang berkarakter dan memegang teguh nilai-nilai tauhid”

“Mencetak siswa yang bertauhid, beriman serta memiliki akhlak mulia sesuai nilai Islam”

“Membentuk pribadi yang akhlakul karimah, berkualitas dalam iman dan taqwa”

“Membentuk generasi cerdas Islam yang berakhlakul karimah”

Dan masih banyak lagi tema-tema spektakuler yang diusung, yang salah satu harapannya adalah demi mendulang jumlah peserta dan semaraknya kegiatan tersebut. Kalau kita lihat sepintas memang tema-tema tersebut menimbulkan kesan “wah” dan menjanjikan sebuah perubahan yang merupakan idaman hampir sebagian besar orangtua buat anak-anaknya. Pertanyaannya adalah apakah memang bisa kita menghasilkan sebuah perubahan khusus terhadap sikap dan tingkah laku hanya dalam waktu lebih kurang 2-3 hari?

Tidak ada yang salah dengan harapan serta cita-cita mulia yang diusung tersebut, namun juga harus diingat bahwa semua itu tidak bisa dicapai dalam waktu singkat. Sebuah harapan semu yang terlalu dipaksakan menurut saya. Semua itu mencerminkan kegamangan kita dalam memanfaatkan momentum puasa Ramadhan untuk menghasilkan perubahan sikap serta perilaku secara cepat. Kita semua menebarkan harapan menjulang setinggi langit agar dalam bulan Ramadhan ini anak-anak kita bisa menjadi insan mulia dalam waktu secepat mungkin.

Lalu, apakah pesantren kilat tersebut harus ditiadakan? Atau malah sekalian tidak usah diadakan karena hasilnya akan sia-sia? Bukan seperti itu yang saya maksudkan. Pesantren kilat sebagai sebuah kegiatan positif dalam mengisi serta mensyiarkan puasa Ramadhan bisa tetap terus dilaksanakan. Yang perlu dibenahi adalah anggapan serta janji-janji muluk terhadap pesantren kilat tersebut. Pesantren kilat dengan durasi lebih kurang 2-3 hari hanya bisa digunakan sebagai ajang untuk mengenalkan nilai-nilai positif kepada para peserta didik. Bagi para pihak penyelenggara jangan terlalu “over” dalam menebarkan janji-janji manis bahwa kegiatan pesantren kilat tersebut akan bisa menyulap perubahan perilaku pesertanya dalam waktu singkat. Tidak usah memberikan sesuatu janji yang tidak rasional serta melakukan pembodohan dengan menawarkan pencapaian tujuan dalam waktu yang singkat.

Dan bagi orang tua jangan hanya menggantungkan harapan dalam mendidik serta mengembangkan potensi anak kepada guru di sekolah dan lembaga pendidikan lainnya. Tidak cukup hanya dengan mengirim anak ke sekolah favorit, mengikuti kursus dengan biaya tinggi, mendatangkan guru privat handal serta berbagai macam kegiatan dan training yang menjanjikan hasil maksimal tanpa perlu melibatkan orangtua secara aktif. Sebagai orangtua jangan sampai menerapkan manajemen “tambal ban” dalam mendidik dan mengasuh anak. Sibuk mencari tukang tambal ban ketika mengalami ban kendaraan bocor. Lalu menyerahkan dan berharap sepenuhnya kepada tukang tambal ban untuk mencari serta memperbaiki kebocoran, lalu akan marah besar ketika baru dipakai beberapa meter bannya bocor kembali. Seperti itulah gambarannya orangtua yang hanya menyerahkan sepenuhnya pendidikan karakter anaknya pada pihak ketiga, dan akan marah besar kalau anaknya kurang bermoral dan tidak memiliki akhlak yang mulia karena merasa sudah membayar mahal untuk memperbaiki karakter serta sikap anaknya.

Mari kita jadikan Ramdahan tahun ini sebagai momentum untuk membenahi dan meluruskan kembali makna dari pesantren kilat. Jadikan kegiatan pesantren kilat sebagai salah satu wahana untuk mengenalkan nilai-nilai positif serta kisah tauladan islami kepada anak-anak. Selanjutnya nilai-nilai tersebut dimatangkan dan dijadikan sebagai sebuah kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari melalui keteladan serta bimbingan dari orangtua dan guru.

Sekali lagi pendidikan adalah proses panjang dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan, sehingga mendidik tidak bisa mendadak, mendadak juga tidak bisa dalam mendidik. Sebuah hasil terbaik hanya akan didapatkan melalui serangkaian proses panjang yang berlangsung secara terus menerus, bukan melalui proses yang serba cepat dan instant.

(Tulisan ini pernah dimuat di Harian BERNAS Jogjakarta edisi Rabu, 22 Juni 2016 dengan judul “Janji Muluk Pesantren Kilat”)

Bagi Anda yang ingin mengoptimalkan potensi diri guna meraih kesuksesan, jangan sampai terlewatkan untuk membaca buku terbaru saya We Are Masterpiece : 7 Langkah Mengoptimalkan Potensi Diri

Apa itu SociaBuzz?


About Denni Candra

Denni Candra adalah seorang konsultan dan penulis yang rutin menulis di beberapa media diantaranya Harian BERNAS Jogjakarta dan beberapa media lokal di Bangka serta menjadi kontributor artikel di www.level-up.id dan www.inspirasi.co. Selain itu juga fokus menjadi seorang ghost & co-writer buat siapa saja yang ingin dibantu menulis dan menyelesaikan bukunya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *