Kok Buntu Sih?


dennicandra.com, Saya pribadi pernah mengalami yang namanya “kebuntuan”. Entah itu kebuntuan dalam arti yang sebenarnya, yaitu salah jalan yang berakhir pada gang buntu. Tidak bisa melanjutkan perjalanan karena memang tidak ada lagi jalan yang bisa di lalui, namanya saja sudah buntu. Atau bisa juga mengalami kebuntuan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Permasalahan yang tidak ketemu solusi serta penyelesaiannya. Akhirnya menggantung tanpa ada kejelasan atau kepastian. Begitu juga dengan hubungan, entah itu hubungan dalam urusan pekerjaan atau hubungan yang sudah melibatkan hati serta perasaan. Yang terakhir ini yang sesak nih kalau menemukan jalan buntu … hehehe

Lantas bagaimana sebaiknya kalau mengalami kebuntuan?

Oke … sebelum membahas lebih lanjut, ada baiknya kita merujuk pada pengertian yang ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Buntu berarti tertutup (tidak dapat terus tentang pintu, jalan, pipa, dan sebagainya); tertutup salah satu ujungnya (jalan, pipa, dan sebagainya); terhalang (oleh sekatan dan sebagainya); tersekat; tersuntuk (tentang akal, pikiran, dan sebagainya).

Jadi istilah “jalan buntu” tersebut berarti jalan yang tidak ada lanjutannya. Dan kalau pada masalah berarti tidak ada solusi serta penyelesaiannya.

Saya sering mendengar atau mendapatkan nasihat baik itu melalui buku-buku motivasi atau pun melalui berbagai ceramah agama yang disampaikan oleh para ustaz dan mubalig, bahwa permasalahan yang datang menerpa adalah sebagai salah satu bentuk perhatian dari Tuhan. Sebagai bentuk rasa sayang dariNya, sebagai salah satu cara dari Tuhan untuk membuat saya tangguh dan menjadi lebih kuat.

Kenapa begitu? Karena Dia selalu memberikan yang terbaik untuk saya, Dia selalu memberikan yang saya butuhkan bukan yang saya inginkan. Namun terkadang saya sendiri yang kurang peka dalam membaca berbagai tanda serta bantuan dariNya. Sering saya merenung dan bertanya pada diri sendiri, apa sebabnya saya sering tidak peka dan abai terhadap berbagai tanda dan perhatian dariNya?

Bisa jadi karena saya tidak memiliki hubungan vertikal yang begitu dekat dan spesial denganNya. Saya berdoa hanya ketika merasa butuh dan saat ada permasalahan saja. Ketika hidup ini berjalan seperti apa yang saya inginkan, maka saya abai dan tidak merasa butuh denganNya. Namun ketika jalan hidup ini menghadirkan berbagai onak dan duri serta kerikil-kerikil tajam yang membuat perjalanan tersendat, baru saya mendekat lagi kepadaNya.

Ibarat orang pergi belanja ke toko atau ke pasar. Ketika stok makanan dan keperluan sehari-hari masih banyak, ya tidak usah datang ke pasar/toko. Namun ketika persediaan menipis, baru datang untuk berbelanja sesuai kebutuhan yang diperlukan. Ketika lagi sehat, pekerjaan lancar dan rezeki mengalir dari berbagai penjuru maka ibadah dan doa cukup seperlunya saja. Ketika nanti ada keperluan mendesak dan butuh bantuan baru rajin ibadah dan doa dengan khusyuk.

Karena sikap dan hubungan vertikal denganNya yang renggang tersebut, maka secara tidak sadar menciptakan sebuah celah kosong. Celah kosong ini terkadang diisi dengan kemampuan otak yang terbatas. Namanya saja otak manusia, pasti ada keterbatasannya dan tidak semua persoalan kehidupan ini bisa dijangkau oleh nalar serta kemampuan otak manusia. Ketika otak tidak bisa menjangkau dan menghadirkan solusi, saat itulah terjadi kebuntuan. Akhirnya berujung pada sikap putus asa dan mengalami keterpurukan.

Untuk itulah pentingnya memiliki hubungan yang dekat dan spesial denganNya. Salah satunya untuk mengatasi kekosongan dalam jiwa dan melahirkan kepekaan. Ketika rasa peka tersebut sudah terbentuk, maka dengan sendirinya akan terbentuk semacam radar yang dapat menangkap berbagai tanda serta bantuan yang dihadirkannya. Bantuan tersebut ibarat angin sepoi-sepoi, tidak dapat dilihat, didengar atau pun ditangkap namun bisa dirasakan. Merasakannya harus dalam suasana jiwa yang tenang serta jauh dari kepanikan serta hingar bingar keduniaan.

Jalan buntu itu merupakan istilah yang digunakan manusia untuk mendefinisikan sebuah situasi yang tidak bisa dicarikan solusinya oleh otak. Karena keterbatasan kemampuan otak dan terciptanya kekosongan jiwa karena renggangnya hubungan dengan Tuhan, akhirnya bingung tidak tahu harus bagaimana.

Solusinya hanya satu, saya harus mendekatkan diri kepadaNya dalam situasi apapun. Merekat kembali sobekan-sobekan jiwa yang sempat merenggang dan mendekatkan diri yang sempat jauh serta membuang jauh-jauh kesombongan yang melekat di hati. Sehingga ketika otak tidak bisa menghadirkan solusi, saya bisa mendengar dan peka terhadap bantuan yang diberikanNya.

Mau interaksi lebih lanjut …??? Follow saya di twitter : @CandraDenni


About Denni Candra

Denni Candra adalah seorang konsultan dan penulis yang rutin menulis di beberapa media diantaranya Harian BERNAS Jogjakarta dan beberapa media lokal di Bangka serta menjadi kontributor artikel di www.level-up.id dan www.inspirasi.co. Selain itu juga fokus menjadi seorang ghost & co-writer buat siapa saja yang ingin dibantu menulis dan menyelesaikan bukunya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *