Lebih Banyak Mendengar

Lebih Banyak Mendengar

dennicandra.com, Dalam suatu kegiatan temu kepenulisan yang digagas oleh sebuah komunitas, saya bertemu dan berkenalan dengan beberapa teman baru yang sama-sama menggeluti dunia kepenulisan. Ketika sesi perkenalan, kesempatan tersebut tidak saya sia-siakan untuk berkenalan dan menjalin relasi dengan berbagai orang yang berasal dari beberapa propinsi di Indonesia.

Ketika berkenalan dengan seorang teman, ia mengatakan bahwa sebenarnya ingin ikut acara yang diadakan di Denpasar, Bali. Tetapi karena waktunya bertepatan dengan kegiatan lain yang sudah diagendakan jauh-jauh hari, maka ia akhirnya ikut acara yang di Jakarta. Spontan, mendengar kata Bali, saya pun langsung mengomentari bahwa saya pernah berkesempatan ke Bali dan mampir ke beberapa kota yang ada di sana. Dengan berlagak sok tahu, saya mulai "menyerocos" dan bercerita tentang berbagai hal mengenai Bali serta menganggap bahwa pengetahuan saya mengenai Bali lebih dari cukup untuk memberikan gambaran kepada teman tersebut mengenai daerah yang tidak jadi ia kunjungi.

Ketika sampai pada acara pembukaan, pembawa acara mengatakan bahwa acara ini juga dihadiri oleh salah satu jurnalis harian ibukota. Sang jurnalis tersebut juga seorang penulis yang cukup produktif dan sempat menjadi kontributor di beberapa daerah yang ada di Indonesia, salah satunya di Bali. Dan peserta yang disebutkan itu adalah teman yang baru saja berkenalan dengan saya tadi. Spontan saya menjadi malu dan tidak enak hati karena beranggapan bahwa dia tidak mengetahui apa-apa tentang Bali. Padahal, ia pernah selama 3 tahun tinggal dan menetap di sana. Sementara saya hanya berkunjung selama 3 hari saja.

Begitulah keseharian yang sering kita alami, terlalu cepat menilai seseorang dan mengambil kesimpulan sepihak seolah-olah kita lebih hebat dari orang tersebut. Dari pengalaman tersebut saya sadar, bahwa seringkali saya pribadi menilai seseorang terlalu cepat dan berdasarkan asumsi sepihak. Seharusnya, saya berusaha untuk lebih banyak mendengar dan menggali informasi terlebih dahulu supaya tidak salah dalam menilai.

Satu hal yang saya sadari dari kejadian tersebut adalah berusaha untuk merespon dengan tepat setiap kali kita bertemu atau berinteraksi dengan orang lain. Termasuk juga ketika berinteraksi dengan orang-orang terdekat kita seperti anak, saudara, pasangan dan orangtua. Respon kita tidak ditentukan dari bagaimana cara orang bereaksi, tetapi ditentukan dari cara kita berusaha untuk mendengarkan mereka.

Komunikasi yang paling efektif adalah ketika kita berusaha untuk memberikan waktu lebih banyak mendengarkan serta menunda untuk bereaksi sebelum semua informasi didapatkan secara jelas serta lengkap. Hendaknya kita berusaha untuk lebih banyak mendengar dan lambat untuk berkata-kata.


  Dapatkan buku terbaru saya yang berjudul "Yakin Gak mau Nulis? ; Hidup Sekali Gak Nulis Rugi"

Related Articles

Comments

  • No Comments

Add Comment

Testimonial
Facebook
Twitter