Mama Cinta Pertamaku

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh

Lewati rintangan untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan

Walau tapak kaki, penuh darah ... penuh nanah


Seperti udara ... kasih yang kau berikan

Tak mampu ku membalas ... ibu ... ibu


Ingin ku dekat dan menangis di pangkuanmu

Sampai aku tertidur, bagai masa  kecil dulu

Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku

Dengan apa membalas ... ibu ... ibu


Seperti udara ... kasih yang kau berikan

Tak mampu ku membalas ... ibu ... ibu


(Lirik lagu Iwan Fals - Ibu)

Dia bukanlah wanita karir yang selalu sibuk  dengan berbagai meeting dan urusan pekerjaan dari pagi hingga malam menjelang. Dia juga bukan ibu-ibu yang lebih suka berkumpul dan “ngerumpi” tentang perkembangan berbagai gosip selebriti dalam acara arisan setiap harinya. Dia juga bukan perempuan yang sibuk mempercantik tampilan fisik dengan berbagai tambalan make up dan kosmetik, serta lebih mementingkan penampilan yang “matching” dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Dia hanya wanita desa yang dari kecil dididik dengan penuh kesederhanaan. Anak kelima dari tujuh bersaudara, yang telah terbiasa dengan kerasnya kehidupan semenjak dia mengenal dunia ini. Berbagai pekerjaan dan tanggungjawab sudah diembannya ketika kecil untuk membantu kehidupan keluarga. Ikut mengembalakan kerbau di tengah teriknya sinar matahari atau terseret hewan gembalaan di areal persawahan yang penuh lumpur bukan hal yang baru lagi baginya.
Walau pun saat ini kerutan sudah mulai terlihat, tetapi sisa-sisa kecantikan masa muda masih membekas diwajahnya yang tak pernah terlihat lelah. Dia yang pertama kali mengajarkan artinya cinta bagi saya dalam kehidupan ini. Dari dia juga saya merasakan apa itu yang namanya kasih sayang. Wanita  luar biasa itulah yang saya panggil dia dengan sebutan MAMA.

Dialah wanita hebat yang telah rela memperjuangkan saya dalam kandungannya selama 9 bulan dan mempertaruhkan nyawanya ketika melahirkan saya ke dunia ini. Mama adalah sosok pilihan yang telah diciptakanNya buat mendampingi papa melewati berbagai perjuangan untuk membesarkan saya dan adik-adik.

Walau pun hanya tamatan sekolah dasar karena keterbatasan ekonomi, tetapi pemikiran dan cara pandangnya tidak kalah dari wanita lainnya yang berpendidikan tinggi. Mama tidak mengenal apa yang namanya emansipasi, apa itu persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan dan dia juga bukan aktivis “feminimisme”.

Namun dalam kesehariannya beliau selalu sedia mendampingi suami bekerja di sawah dan ladang, ikut membantu suami dalam mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan keluarga dan semua itu tanpa meninggalkan perannya dalam menyiapkan berbagai keperluan rumah tangga. Begitu juga perannya sebagai ibu yang merupakan madrasah pertama buat anak-anaknya tidak pernah ia abaikan. Semua lakon dan peran diembannya dengan sempurna.

Mulai dari pagi hari, sebelum azan subuh berkumandang mama sudah bangun dan memulai aktivitas hariannya di dapur. Mempersiapkan sarapan dan berbagai keperluan anggota keluarga lainnya. Ketika azan subuh berkumandang, mama seakan menjadi alarm bagi anak-anaknya yang memerintahkan untuk segera bangun dan menunaikan kewajiban kepadaNya.

Setelah selesai sarapan dan anak-anak berangkat sekolah, maka mama pun bersiap untuk menemani papa entah itu ke sawah atau ke ladang. Sore harinya ketika kami semua enak-enaknya bersantai dan kumpul di ruang keluarga, mama masih sibuk menyiapkan makan malam di dapur. Malamnya beliau menjalani profesi lain lagi yaitu sebagi guru, menemani anak-anaknya belajar dan bertanya tentang berbagai aktivitas yang dijalani seharian di sekolah. Begitu seterusnya lingkaran aktivitas yang dijalaninya, tanpa ada keluhan rasa capek dan lelah yang terlontar dari mulutnya.

Dengan keterbatasan yang dimilikinya, mama tetap berusaha untuk menjadi pendamping setia bagi suaminya dan ibu yang luar biasa bagi anak-anaknya. Dengan kesederhanaan dia mengajarkan tentang bagaimana caranya bersyukur atas segala yang telah kami terima. Dengan kerja keras dia mengajarkan tentang bagaimana caranya mengoptimalkan usaha untuk mencapai semua impian. Tanpa banyak mengeluh dia mengajarkan arti bahagia walau pun tanpa berlimpah harta.

Sampai saat ini pun mama masih tetap bekerja keras, dan kalau tidak terlalu mendesak sekali pantang bagi mama untuk merepotkan anak-anaknya. Selama masih diberikan nikmat kekuatan dan kesehatan olehNya maka tidak ada kata lelah bagi mama. 

Satu pengalaman paling berkesan dan tidak akan mungkin saya lupakan adalah ketika masa awal saya belajar di sekolah dasar. Saat itu saya mengalami sakit yang amat sangat di bagian perut dan ada sesuatu yang rasanya menyesak di dekat ulu hati ini yang membikin saya kesulitan untuk bernafas. Setelah dibawa dan diperiksa ke UKS, akhirnya saya diperbolehkan pulang dan istirahat. Tapi jangankan untuk berjalan pulang, berdiri lurus saja saya tidak sanggup. 

Akhirnya para guru berinisiatif memberitahu pulang dan meminta keluarga untuk menjemput saya. Saat itu kebetulan papa lagi bekerja di ladang, yang ada di rumah adalah mama. Tanpa pikir panjang, mama langsung berangkat untuk menjemput saya ke sekolah. Karena saya tidak sanggup untuk berjalan, maka mama memutuskan untuk menggendong saya pulang. Kejadian itu masih membekas dan terekam dengan sangat jelas sampai saat ini dan seumur hidup tidak mungkin akan saya lupakan.

Walau pun sampai saat ini masih banyak yang belum saya lakukan untuk membahagiakan mama, tetapi sebisa mungkin saya mencoba untuk tidak membuat dia kecewa. Berapa pun yang saya berikan sebagai seorang anak, tidak akan pernah cukup untuk membalas apa yang telah mama lakkukan buat membesarkan saya. Terlalu besar pengorbanan yang telah dilakukan mama buat kami anak-anaknya.

Kesederhanaan, kerja keras, pantang menyerah yang dibalut dengan rasa cinta dan kasih sayang merupakan beberapa hal yang selalu ditekankan dan diajarkan mama kepada saya, sehingga itulah yang bisa mengantarkan saya berdiri tegar saat ini dalam menghadapi dunia. 

Bagi saya Mama adalah malaikat bumi yang sifat dan kedudukannya bisa membuat iri para bidadari surga. You are my first love ...!!!

  Dapatkan buku terbaru saya yang berjudul "Yakin Gak mau Nulis? ; Hidup Sekali Gak Nulis Rugi"

Comments

  1. No Comments

Add Comment

Testimonial

Dalam buku BREAK THE LIMITS ini, saya paling suka dengan quote mas Denni saat mengatakan bahwa tinda... read more

Windy Rose

Gara-gara membaca bukunya mas Denni yang berjudul "Break The Limits" jadi susah untuk mencari alasan... read more

Dian Suprayogi

Salah seorang penulis bak mutiara terpendam dari Pulau Bangka. Buku "Break The Limits" yang ditulis ... read more

Brili Agung

Facebook

Twitter