Mengalahkan Rasa Takut 1


Denni Candra

dennicandra.com, Kalau bicara rasa takut khususnya ketakutan dalam mengarungi kehidupan ini tidak akan ada habisnya. Karena setiap orang akan memiliki berbagai argumen serta defenisinya sendiri mengenai rasa takut tersebut. Sebenarnya rasa takut adalah bagian dari pelangi kehidupan manusia di muka bumi ini. Rasa takut yang dirasakan manusia itu berjuta rasanya dan kalau diuraikan satu persatu mungkin berlembar-lembar kertas tidak cukup untuk menguraikannya.

Secara umum ada orang yang takut terhadap kondisi gelap, ada yang takut dengan binatang tertentu seperti kucing, anjing atau ular. Ada juga yang takut dengan lingkungan yang tidak bersahabat. Mungkin waktu sekolah dulu kita takut terhadap kemarahan guru atau teman yang usil. Dalam dunia kerja ada perasaan takut dikhianati teman atau takut terhadap atasan yang galak. Bahkan ada yang takut dengan masa depan dan kenyataan hidup yang harus dijalaninya. Rasa takut tersebut benar-benar berjuta rasanya.

Mempunyai perasaan takut itu sebenarnya merupakan suatu penderitaan dan sama sekali bukan hal yang nyaman. Bisa saja rasa takut tersebut membuat orang putus asa dan kehilangan motivasi.

Kalau begitu bisakah rasa takut itu dihilangkan? George S. Patton, salah seorang panglima perang AS pada PD II mengatakan, “Perang adalah suatu kompetisi paling dahsyat dalam kehidupan kemanusiaan. Semua orang takut dengan peperangan. Pengecut adalah seseorang yang membiarkan ketakutan mengalahkan rasa tanggung jawab. Tanggung jawab adalah esensi dari kemanusiaan.”

Dari penjelasan tersebut dapat kita petik sebuah nasehat bijak bahwa dengan senantiasa mengingat tanggung jawab yang kita pikul maka kita akan berani untuk menghadapi dan menundukkan rasa takut tersebut.

Pengalaman saya pribadi, ketika memulai langkah untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi ada berbagai macam ketakutan yang datang. Rasa takut dan gamang ketika harus berpisah dan hidup jauh dari kedua orangtua. Kegelisahan mengenai cara untuk membiayai kebutuhan hidup selama menempuh pendidikan. Ketakutan akan terbengkalainya kuliah saya karena harus membagi waktu untuk belajar dan bekerja sampingan. Kekhawatiran bagaimana kalau ditengah perjalanan orangtua saya tidak sanggup untuk membiayai kuliah yang saya jalani. Dan berbagai ketakutan serta kekhawatiran lainnya yang terkadang datang tanpa diundang serta disadari, tiba-tiba hal tersebut langsung muncul dan menari-nari dalam pikiran.

Terkadang ada terbersit pikiran untuk berhenti kuliah dan mencoba peruntungan menjajaki tanah rantau dengan bermodalkan ijazah SLTA. Atau menyerah dengan keadaan dan ikut membantu kedua orangtua mengolah lahan pertanian. Tetapi setelah saya pikirkan lagi, hal itu hanya akan menjadi pelarian sesaat dari berbagai keruwetan yang ada, lambat laun hal tersebut justru akan menambah jalinan masalah di masa yang akan datang.

Selain itu harapan dan tanggung jawab dari orang tua yang berharap saya bisa menjadi contoh serta teladan bagi adik-adik saya, sedikit banyaknya menjadi pemicu semangat dalam menghadapi berbagai ketakutan yang muncul tadi. Serta keinginan untuk membuktikan bahwa saya adalah anak yang berbakti dan menghargai jerih payah serta pengorbanan orangtua juga menjadi pendorong semangat. Harapan dan tanggungjawab tersebut yang membuat saya bertahan dan mencoba berbagai cara untuk melalui berbagai kesulitan hidup yang datang mendera.

Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, mulai dari mencari berbagai informasi mengenai beasiswa, bekerja sebagai penjaga rental komputer, menerima jasa pengetikan tugas mahasiswa, mengerjakan jasa pembuatan gambar teknik bagi mahasiswa yang akan sidang kerja praktek maupun sidang tugas akhir.

Berbagai ketakutan dan kekhawatiran yang muncul tersebut saya coba untuk kalahkan. Saya percaya bahwa dengan kemauan yang kuat dan kerja keras diiringi doa yang tulus kepadaNya maka semua tantangan akan bisa saya lalui.

Salah seorang dosen saya pernah berkata, bahwa rasa takut dan khawatir tersebut jangan dijadikan sebagai penghambat bagi kita untuk meraih apa yang diimpikan. Tetapi jadikan itu semua sebagai tenaga pendorong serta penyemangat untuk menggapai impian. Jadikan rasa takut tersebut sebagai motivasi, bahwa kalau kita ingin hal yang kita takutkan tersebut tidak terjadi maka kita harus berusaha serta bekerja keras untuk membuktikan bahwa semua ketakutan itu jangan sampai terjadi.

Presiden pertama Afrika Selatan, Nelson Mandela pernah mengatakan, “Saya belajar bahwasanya keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan kemenangan keberanian atas rasa takut. Orang yang berani bukanlah orang-orang yang tak memiliki rasa takut, tapi mereka adalah orang-orang yang berhasil menundukkan rasa takut yang dimilikinya.”

Bagi Anda yang ingin mengoptimalkan potensi diri guna meraih kesuksesan, jangan sampai terlewatkan untuk membaca buku terbaru saya We Are Masterpiece : 7 Langkah Mengoptimalkan Potensi Diri


About Denni Candra

Denni Candra adalah seorang konsultan dan penulis yang rutin menulis di beberapa media diantaranya Harian BERNAS Jogjakarta dan beberapa media lokal di Bangka serta menjadi kontributor artikel di www.level-up.id dan www.inspirasi.co. Selain itu juga fokus menjadi seorang ghost & co-writer buat siapa saja yang ingin dibantu menulis dan menyelesaikan bukunya.


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

One thought on “Mengalahkan Rasa Takut