Mengenalkan Ibadah Puasa Sejak Dini Kepada Anak


dennicandra.com, Selama ini sering saya menjumpai sebuah kondisi yang unik dan cukup menarik perhatian yang saya temui di jalan-jalan dan sekolahan selama bulan Ramadhan. Ada beberapa anak usia sekolah khususnya sekolah dasar di rentang usia 7-12 tahun, yang dengan santainya menikmati makanan serta minuman di tengah keramaian siang hari bulan Ramadhan. Terkadang saya bertanya sendiri dalam hati, apakah gerangan yang membuat anak-anak tersebut tidak menjalan ibadah puasa Ramadhan? Apa mungkin orangtua atau anggota keluarga yang lain tidak pernah mengingatkan untuk berlatih melaksanakan ibadah puasa?

Jika saja karena kondisi fisik yang lemah atau dalam keadaan sakit, tentulah saya mungkin juga Anda tidak akan mempermasalahkan hal tersebut. Karena kalau dalam kondisi tidak sehat, jangankan anak-anak, orang dewasa sekalipun diperbolehkan untuk berbuka di siang hari bulan Ramadhan. Mungkin bisa saja sebagian orang berkata bahwa tidak ada kewajiban untuk anak-anak ikut berpuasa apalagi mereka yang belum baligh dan masih di bawah umur. Sehingga dirasa tidak perlu terlalu memaksakan ibadah puasa kepada anak-anak atau tergesa-gesa untuk menyuruh mereka ikut menahan haus dan lapar di siang hari selama Ramadhan.

Alasan tersebut mungkin saja ada benarnya dan pada satu sisi bisa kita maklumi. Akan tetapi apakah karena ada hal tersebut, lantas kita khususnya sebagai orangtua akan berdiam diri untuk tidak mengenalkan serta melatih anak kita untuk ikut berpuasa? Kalau bukan kita yang melatih serta mengenalkan ibadah kepada mereka sejak dini, lantas siapa lagi yang akan memperkenalkan hal tersebut kepada mereka?

Bukankah segala sesuatu akan terasa ringan dan mudah untuk dilakukan kalau hal tersebut telah menjadi kebiasaan dan dilakukan semenjak dini? Begitu juga halnya dengan ibadah puasa yang sangat dominan mengandalkan ketahanan fisik. Jika tidak dibiasakan semenjak dini dan dilatih sedari kecil, maka siapa yang berani memberikan jaminan kalau nanti setelah besar mereka akan memiliki kesadaran untuk melaksanakannya? Kalau bukan dari usia dini kita melatih mereka, maka penundaan demi penundaan yang kita benarkan dengan alasan kasihan tersebut hanya akan menyebabkan kesulitan demi kesulitan dari tahun ke tahun.

Kita semua pastinya mengetahui ada kata-kata bijak yang mengatakan bahwa mendidik anak saat mereka masih kecil ibarat mengukir di atas batu. Susah memang dan perlu perjuangan lebih serta tenaga ekstra, tetapi hasilnya akan menjadi sebuah karya yang membanggakan. Sedangkan mendidik ketika usia telah dewasa bagaikan mengukir di atas air, yang hanya akan menghasilkan dampak sesaat tetapi akan cepat tersapu gelombang yang datang.

Rasanya tidak ada salahnya bahkan bukan sesuatu yang berlebihan jika kita memulai sejak dini untuk mengenalkan dan melatih anak-anak berpuasa. Bahkan sebagai umat muslim kita bisa menjumpai teladan yang terdapat dalam diri Rasulullah Muhammad SAW tentang bagaimana mengenalkan kebaikan kepada anak-anak sejak belia. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa beliau mengajarkan kepada seorang anak tentang bagaimana adab ketika makan. Beliau bersabda, “Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kanan dan makanlah yang terdekat lebih dahulu.” (HR Muslim)

Lantas bagaimana caranya untuk mengajarkan, melatih serta mengenalkan ibadah puasa kepada anak-anak? Setidaknya lima hal berikut bisa sedikit memberikan gambaran tentang hal tersebut, karena selain saya rangkum dari berbagai sumber juga berdasarkan pengalaman saya pribadi ketika mengenalkan ibadah puasa kepada anak saya sejak dia berusia lima tahun.

Pertama, Mengajak Anak Berbicara Dan Memberikan Pemahaman Ringan Seputar Puasa

Sesungguhnya anak-anak usia balita sudah bisa kita ajak untuk berbicara dan berdiskusi ringan mengenai berbagai hal termasuk mengenai ibadah puasa Ramadhan. Apalagi seiring kemajuan zaman dan perkembangan teknologi, anak-anak sekarang pertumbuhannya bisa dibilang tergolong cepat. Semakin anak mengetahui dan memahami apa arti pentingnya berpuasa, maka akan semakin mudah mengajak serta melatihnya untuk berpuasa. Mungkin ketika berdialog kita bisa melakukannya dengan bahasa-bahasa sederhana yang mudah dipahami anak-anak. Atau mungkin melalui media dongeng dan kisah-kisah islami yang berhubungan dengan pentingnya berpuasa. Saya juga pernah melakukannya sembari menyanyi bersama dengan anak saya lagu Bimbo yang berjudul “Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya”. Serta masih banyak cara lainnya yang bisa dilakukan untuk menyampaikan hal tersebut kepada anak-anak.

Kedua, Memberikan Motivasi Dalam Berpuasa

Mungkin selama ini untuk hal motivasi, sudah banyak dilakukan oleh para orangtua. Tetapi kebanyakan selama ini yang dilakukan adalah berkaitan dengan materi atau sifatnya kebendaan. Misalnya kalau anak bisa menuntaskan puasa secara sempurna dari waktu imsak sampai azan maghrib berkumandang, maka akan diberikan hadiah baik itu berupa uang ataupun barang yang diminta sang anak. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi alangkah baiknya kalau pemberian penghargaan tersebut diarah kepada hal-hal yang mengajarkan anak untuk berempati dan berbagi dengan orang lain. Seperti diberikan uang untuk bersedekah, dibelikan buku atau makanan untuk dibagikan kepada anak-anak yatim dan masih banyak hal-hal positif lainnya. Jadi selain memotivasi kita juga mengarahkan mereka untuk berempati dengan lingkungan sekitarnya.

Ketiga, Mempersiapkan Dengan Matang Semua Kebutuhan Anak

Dalam hal ini yang lebih ditekankan adalah persiapan mengenai kebutuhan asupan makanan serta gizi sang anak. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa mereka masih dalam masa pertumbuhan dan membutuhkan asupan gizi yang cukup, jangan sampai dengan menjalankan ibadah puasa mengurangi asupan gizi dan membuat fisik mereka menjadi lemah. Pastikan kita sebagai orangtua mempersiapkan hidangan baik itu ketika sahur atau pun berbuka, memenuhi kebutuhan gizi dan sesuai dengan porsi yang seharusnya mereka dapatkan.

Keempat, Melakukan Aktivitas Yang Menyenangkan

Bagi anak-anak khususnya yang baru pertama kali berlatih melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, maka hari-hari pertama akan terasa sangat memberatkan serta membuat mereka seakan-akan sangat tersiksa. Kalau saja keadaan tersebut tidak kita persiapkan dan tangani secara baik, maka bisa saja mereka trauma dan tidak mau lagi untuk melanjutkan ibadah puasanya. Karena itu diperlukan langkah-langkah serta berbagai upaya dari kita sebagai orangtua untuk menyiapkan berbagai aktivitas menyenangkan yang bisa mengalihkan pikiran mereka dari beratnya melaksanakan ibadah puasa. Bisa saja dengan bermain atau mewarnai bersama-sama entah itu di masjid, taman bacaan atau bahkan dilingkungan sekitar rumah. Yang penting bisa membuat mereka sibuk dan mengalihkan pikiran mereka dari rasa lapar serta dahaga.

Kelima, Melakukan Latihan Puasa Secara Bertahap

Memang segala sesuatunya tidak ada yang bisa langsung berhasil dengan sempurna, begitu juga dengan pengenalan berpuasa kepada anak-anak. Sebaiknya latihan dan pengenalan puasa Ramadhan pun dilakukan secara bertahap sesuai usia, kondisi fisik serta kemampuan anak-anak. Lebih baik dilakukan secara bertahap tetapi mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Yang penting dimulai dan dikenalkan sejak dini, sehingga diharapkan nantinya hal tersebut akan membuat mereka terbiasa.

Sebenarnya dari dahulu para orangtua kita sudah melakukan hal tersebut, salah satu contohnya melalui latihan puasa setengah hari, yang mungkin sebagian besar kita pasti pernah melakukannya dahulu ketika kecil. Hal tersebut menunjukkan bahwa langkah positif dalam mengenalkan puasa sejak dini kepada anak-anak sudah ada dalam kehidupan masyarakat kita sejak dahulu. Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapi dan melanjutkan hal tersebut kepada anak-anak kita. Sembari mengingatkan kembali kepada sebagian besar saudara-saudara kita yang entah lupa atau sengaja bersikap acuh tak acuh terhadap permasalahan ini.

Semoga Allah memudahkan niat dan langkah kita dalam kebaikan serta mendapatkan ridho serta hidayahNya … Aamiin

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS At-Tahrim :6)

Mau interaksi lebih lanjut …??? Follow saya di twitter : @CandraDenni


About Denni Candra

Denni Candra adalah seorang konsultan dan penulis yang rutin menulis di beberapa media diantaranya Harian BERNAS Jogjakarta dan beberapa media lokal di Bangka serta menjadi kontributor artikel di www.level-up.id dan www.inspirasi.co. Selain itu juga fokus menjadi seorang ghost & co-writer buat siapa saja yang ingin dibantu menulis dan menyelesaikan bukunya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *