Menulis untuk Memperpanjang Umur

dennicandra.comImam Al Ghazali pernah mengatakan, "Kalau kamu bukan anak raja, dan kamu bukan anak seorang ulama besar, maka jadilah penulis". Hampir senada dengan itu Sayyid Qutb, seorang ilmuwan yang juga sastrawan dan pemikir dari Mesir pernah mengungkapkan bahwa, “Peluru hanya bisa menembus satu kepala, tetapi tulisan bisa menembus jutaan kepala.” Sedang di dalam negeri sendiri, Pramoedya Ananta Toer juga pernah berucap, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Dari perjalanan sejarah para pendiri bangsa ini ketika memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia, seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, atau yang lain, dapat dijadikan pelajaran bahwa di awal terbentuknya negeri ini, salah satunya dengan perjuangan melalui tulisan. Selama mereka berada dalam pembuangan serta dikucilkan ke daerah-daerah terpencil sebagai salah satu bentuk pengasingan, namun mereka tetap bersuara dengan gelora semangat yang tak pernah padam melalui tulisan-tulisan yang mereka hasilkan.

Selain itu, dengan adanya karya-karya dari masa lalu yang dituangkan serta diwariskan kepada kita saat ini dalam bentuk tulisan, buku dan dokumen lainnya, merupakan sebuah bukti yang mengiringi perkembangan zaman sampai saat ini. Dan siklus itu akan terus bergulir, kita yang hidup di saat ini merupakan pemegang tongkat estafet yang nantinya pun akan kita wariskan kepada generasi berikutnya. Salah satunya caranya yaitu melalui kata-kata dan naskah tulisan yang kita hasilkan pada saat ini. Semakin banyak karya dalam bentuk tulisan yang kita tinggalkan, maka akan semakin banyak pula kenangan serta jejak sejarah yang kita wariskan kepada generasi berikutnya. Jadi, ada benarnya juga ungkapan yang mengatakan bahwa dengan menulis bisa membangun sebuah peradaban.

Sebagian dari kita mungkin ada yang bertanya, “Apa yang harus ditulis dan darimana memulainya?”. Tulislah apa pun yang bisa memberikan manfaat baik untuk diri sendiri, terlebih buat orang-orang yang akan membaca tulisan kita. Semakin banyak manfaat dari tulisan yang kita tuliskan, mudah untuk dicerna dan dipahami oleh para pembaca. Maka bukan tidak mungkin kalau akan semakin banyak juga orang yang akan terinspirasi. Bisa saja sesuatu yang menurut kita hanya sebuah pengalaman yang biasa, tapi mungkin saja itu bisa menjadi sumber inspirasi bagi orang lain. Jadi, jangan bingung dan takut apa yang kita tulis tidak akan bermanfaat, karena tulisan akan menemukan pembacanya sendiri.

Memang harus kita akui bahwa kebiasaan menulis belum menjadi suatu budaya bagi sebagian masyarakat kita. Apalagi di jenjang pendidikan, baik sekolah atau pun perguruan tinggi belum terlalu mendorong siswa atau mahasiswanya untuk aktif dalam menulis. Bahkan dalam menyusun karya tulis atau pun skripsi masih banyak yang terkesan hanya sekedar “copy paste” dari yang sebelumnya. Selain itu, masih adanya semacam stereotip di masyarakat bahwa menulis belum bisa memberikan jaminan keamanan secara finansial.

Namun satu hal yang harus kita yakini, bahwa seiring kemajuan zaman dan perkembangan teknologi di berbagai sektor, kemampuan menulis pun nantinya juga akan semakin dibutuhkan. Mungkin saja manfaat yang diterima seorang penulis bukan melulu dalam bentuk materi seperti honor atau royalti, namun bisa saja dalam bentuk pengakuan dari orang lain atas kompetensi yang kita miliki. Setelah adanya pengakuan, bisa saja kita diundang untuk berbagi pengalaman atau sharingsesuai kompetensi serta keahlian yang kita miliki tersebut. Atau bisa juga menjadi semacam amal jariyah yang pahalanya akan tetap mengalir, kalau tulisan kita tersebut bisa menginspirasi dan bermanfaat bagi orang banyak.

Ketika ada kesedihan yang melanda dan membuat kita didera nestapa, maka tuliskan dan curahkan perasaan kita tersebut dalam bentuk tulisan. Setidaknya dengan menuliskan berbagai perasaan yang mendera tersebut, telah mengurangi sebagian beban yang ada. Dan bukan hanya ketika sedih saja kita harus menulis, dalam keadaan senang dan penuh suka cita pun kita bisa membagikan perasaan tersebut kepada orang lain melalui tulisan. Jika kita hanya bercerita secara lisan, bisa saja cakupan pendengarnya sedikit, namun ketika hal tersebut kita bagikan melalui sebuah tulisan maka berita tersebut bisa saja menembus batasan ruang dan waktu.

Bahkan di kalangan intelektual AS dan Eropa berlaku sebuah ungkapan yang cukup terkenal yaitu “To publish, or to perish!”. Sebuah ungkapan yang menyatakan betapa perlunya seseorang untuk menulis agar kehadiran bisa dirasakan sesuai dengan bidang kehidupan dan profesi yang digelutinya, atau ia akan ditinggalkan dan dilupakan orang.

 

Comments

  1. No Comments

Add Comment

Testimonial

Dalam buku BREAK THE LIMITS ini, saya paling suka dengan quote mas Denni saat mengatakan bahwa tinda... read more

Windy Rose

Gara-gara membaca bukunya mas Denni yang berjudul "Break The Limits" jadi susah untuk mencari alasan... read more

Dian Suprayogi

Salah seorang penulis bak mutiara terpendam dari Pulau Bangka. Buku "Break The Limits" yang ditulis ... read more

Brili Agung

Facebook

Twitter