Monyet Kelima


Denni Candra

dennicandra.com, Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh para profesor di Amerika Serikat, ada 2 ekor monyet yang dimasukkan ke dalam ruangan kosong secara bersama-sama. Di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah tiang dan di atas tiang tersebut diletakkan beberapa pisang yang sudah matang. Apa yang akan dilakukan oleh kedua monyet tersebut?

Setelah membiasakan diri dengan keadaan lingkungan di dalam ruangan, monyet-monyet itu mulai mencoba untuk meraih pisang. Monyet yang pertama mula-mula mencoba memanjat tiang. Begitu monyet pertama berada di tengah tiang, sang profesor menyemprotkan air sehingga monyet tersebut terpeleset dan jatuh. Monyet pertama mencoba lagi, di semprot dan jatuh lagi. Demikian terjadi secara berulang-ulang sampai akhirnya monyet tersebut menyerah.

Giliran berikutnya adalah monyet kedua, yang mengalami kejadian serupa dan akhirnya menyerah pula. Berikutnya ke dalam ruangan dimasukkan monyet ketiga. Untuk monyet yang ketiga diberikan perlakukan berbeda, para profesor tidak lagi menyemprotkan air ketika monyet berusaha naik. Begitu monyet ketiga mulai menyentuh tiang, dia langsung ditarik oleh monyet pertama dan kedua. Mereka berusaha mencegah agar monyet ketiga tidak mengalami “kesialan” seperti yang mereka pernah alami. Karena dicegah terus dan diberitahu tentang bahaya bila mencoba memanjat ke atas, monyet ketiga akhirnya takut dan tidak pernah memanjat lagi.

Langkah selanjutnya adalah mengeluarkan monyet pertama dan kedua, lalu memasukkan monyet keempat dan kelima. Seperti kejadian-kejadian sebelumnya, monyet keempat dan kelima juga tertarik dengan ranumnya pisang yang ada di atas tiang dan mencoba untuk memanjatnya. Monyet ketiga secara spontan langsung mencegah kedua monyet tersebut agar tidak naik ke atas tiang.

“Hei, mengapa kami tidak boleh naik?” protes kedua monyet tersebut.

“Ada teman-teman yang memberitahu saya bahwa memanjat tiang tersebut berbahaya. Saya juga tidak tahu bahaya seperti apa persisnya, namun lebih baik kita cari aman saja. Jangan memanjat ke atas tiang itu lah pokoknya.” jelas monyet ketiga.

Monyet keempat percaya dan mengurungkan niatnya untuk naik ke atas tiang tersebut. Namun lain halnya dengan monyet kelima yang memang bandel dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar.

“Saya ingin tahu bahaya seperti apa sih yang akan terjadi kalau kita memanjat tiang tersebut? Dan kalau memang ada bahaya, masa tidak bisa dihindari atau dikurangi resikonya?” tegas monyet kelima.

Walau pun sudah dicegah oleh monyet ketiga dan keempat, namun monyet kelima tetap berusaha dan nekad ingin memanjat tiang tersebut. Karena memang sudah tidak disemprot lagi, maka monyet kelima tanpa kesulitan berarti bisa meraih dan menikmati pisang yang diinginkannya.

Monyet pertama dan kedua menggambarkan karakter orang yang pernah berusaha untuk melakukan sesuatu namun mengalami kegagalan. Karena itu mereka merasa trauma dan tidak mau mengulanginya lagi. Disamping itu mereka pun berusaha mencegah dan mengingatkan orang lain agar jangan sampai mengalami kegagalan seperti yang mereka rasakan.

Monyet ketiga dan keempat menggambarkan karakter orang-orang yang hanya mendengarkan dan mendapat penjelasan dari orang lain mengenai apa saja yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Mereka mematuhinya secara mutlak tanpa ada keinginan untuk mencari tahu atau mencoba sendiri berdasarkan pengalaman mereka pribadi. Sedangkan monyet kelima menggambarkan karakter orang yang tidak mudah percaya dengan sesuatu sebelum mencobanya sendiri. Ia juga berani menantang arus serta menanggung resiko asalkan bisa mencapai keinginannya. Tipe karakter kelima ini adalah tipe orang yang “problem solver”, yang tidak takut menghadapi berbagai kesulitan dan tidak pernah trauma walaupun pernah gagal dalam menyelesaikan suatu permalasahan.

Pisang dalam cerita ini merupakan gambaran dari impian yang ingin kita capai. Setiap orang dalam hidup ini mempunyai impian yang tinggi tentang masa depannya. Namun sayangnya, banyak sekali hal yang terjadi di sekitar kita yang menyebabkan impian kita terkubur.

Orang-orang dengan karakter pertama sampai keempat akan mengatakan kepada kita hal-hal seperti ini, “Sudahlah, jangan melakukan pekerjaan yang sia-sia seperti itu. Percuma saja, saya dulu pernah melakukannya berkali-kali dan gagal. Sebagai teman yang baik, saya tidak mau kamu mengalami kegagalan seperti saya.”

Atau mungkin berkata, “Kamu mau gagal seperti kami? Lebih baik lakukan sesuatu yang pasti-pasti saja deh.”

Bukankah hal-hal seperti itu yang sering kita dengar sehari-hari? tapi dengan karakter kelima akan selalu berpkir optimis dalam melakukan sesuatu. “Kalau pun orang lain gagal melakukan sesuatu, maka belum tentu saya juga akan gagal.” Pola pikir seperti ini adalah kekuatan yang akan memompa motivasinya. Kegagalan orang lain dipelajari dan dijadikan sebagai batu loncatan untuk melangkah lebih baik, bukannya dijadikan sebagai suatu ketakutan.  Itulah ciri-ciri seorang problem solver.

Mau interaksi lebih lanjut …??? Follow saya di twitter : @CandraDenni

Bagi kamu yang ingin mengoptimalkan potensi diri guna meraih kesuksesan, jangan sampai terlewatkan untuk membaca buku terbaru saya We Are Masterpiece : 7 Langkah Mengoptimalkan Potensi Diri


About Denni Candra

Denni Candra adalah seorang konsultan dan penulis yang rutin menulis di beberapa media diantaranya Harian BERNAS Jogjakarta dan beberapa media lokal di Bangka serta menjadi kontributor artikel di www.level-up.id dan www.inspirasi.co. Selain itu juga fokus menjadi seorang ghost & co-writer buat siapa saja yang ingin dibantu menulis dan menyelesaikan bukunya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *