SLOW LIVING ; KARENA HIDUP ITU BERJALAN BUKAN BERLARI

SLOW LIVING ; KARENA HIDUP ITU BERJALAN BUKAN BERLARI

dennicandra.comDalam kehidupan masyarakat modern saat ini merupakan suatu hal yang lumrah bahwa orang dengan tingkat aktivitas tinggi serta sehari-harinya penuh dengan berbagai kesibukan merupakan prototipe masyarakat urban yang terlihat keren. Jadi tidak usah heran kalau kita sering melihat orang yang sedang mengantre di kedai kopi sebuah lobi gedung kantor sambil menelpon membahas mengenai bisnis atau pekerjaan. Seakan-akan orang tersebut tidak peduli dengan keadaan sekitarnya, ia mengambil latte pesanan sambal berlalu tetap dengan ponsel menempel di telinga. Atau ada orang yang hari-harinya dihabiskan dalam berbagai pertemuan dan rapat mulai dari pagi hingga malam. Atau ada juga yang setiap harinya harus menghadiri berbagai jadwal mulai dari rapat, arisan, peresmian gedung baru, launching produk, lelang lukisan, sampai pesta lainnya. Atau mungkin Anda termasuk salah satu diantara orang-orang sibuk tersebut?

Di mata masyarakat modern, menjadi seorang yang sibuk sama artinya dengan meniti jalan menuju kesuksesan. Namun sesungguhnya kita masih bisa menjadi sukses tanpa harus hidup tergesa-gesa. Menyederhanakan hidup serta menjalaninya dengan santai bukan berarti kita malas. Hanya saja dengan lebih santai artinya kita memilih fokus pada satu hal tertentu yang lebih penting dalam hidup. Menjawab permasalahan kehidupan modern itu, Greatmind hadir sebagai media yang mengedepankan konsep mindfulness dan slow living. Dengan kontennya yang selalu berusaha menularkan pemikiran-pemikiran positif sebagai asupan jiwa. Jika sebelumnya Greatmind sukses menularkan konsep tersebut melalui situs dan media sosial, maka sebagai salah satu gebrakan Greatmind menghadirkan konsep slow living tersebut dalam format buku cetak.

Buku yang berjudul SLOW ini disusun bersama para beberapa publik figur yang memberikan perspektif mereka mengenai hidup yang lebih santai dari berbagai aspek kehidupan. Kisah pertama berasal dari Eva Celia, yang menceritakan tentang pilihannya untuk menjadi seorang vegetarian setelah sebelumnya menjalani proses tersebut untuk penyembuhan. Setelah menjalani pola hidup veganisme, walaupun sedikit banyak berpengaruh pada tawaran pekerjaan yang didapatkannya tetapi Eva Celia merasakan hidupnya menjadi lebih seimbang. Selain itu ada juga Dominique Diyose, seorang supermodel Indonesia yang kini memilih untuk meninggalkan glamournya kehidupan di Jakarta dan menjalani kehidupan yang lebih sederhana bersama keluarganya di pelosok pulau dewata. Ada lagi kisah Ayla Dimitri, seorang influencer media sosial yang berbagi pemikiran mengenai bagaimana menggunakan media sosial yang bijak agar kita tetap waras.

Tak ketinggalan sosok Andy F. Noya pun ikut berbagi kisahnya tentang menemukan makna hidup dan memilih mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Metro TV saat dirinya berada di puncak karir. Yang menemukan makna kehidupan dengan cara berbagi tanpa harus menunggu serta berkilah dengan berbagai alasan. Dan masih banyak lagi kisah-kisah menarik dari beberapa publik figur yang bisa menjadi semacam pencerahan bagi kita sebagai pembaca dalam menemukan makna kehidupan dari berbagai aspek kehidupan.

Melalui buku ini Greatmind mengajak kita sebagai pembaca untuk sejenak mengambil jeda dari berbagai aktifitas yang menyita waktu serta perhatian kita dan merasakan kenikmatan hidup dengan mensyukuri apa yang telah kita peroleh. Terlihat bahwa memang Greatmind sengaja dan mencoba untuk mendobrak kebiasaan masyarakat modern saat ini yang terbiasa membaca melalui gawai dan tidak lepas dari layer digital, sehingga buku ini dibikin bukan dalam bentuk digital. Dengan membuat buku dalam bentuk fisik, secara tidak sadar kita telah diajak untuk sejenak lepas dari layar digital yang selama ini menjadi fokus serta menyita waktu kita. Dalam pemilihan narasumber serta kontributor pun dirancang sedemikian rupa dengan pemikiran yang matang agar menghadirkan bacaan yang dapat menggugah pembaca bahwa tidak semua hal harus dilakukan secara cepat layaknya mesin, tetapi ada beberapa hal yang bisa dikerjakan secara perlahan sembari menikmati indahnya hidup ini.

Buku ini sangat tepat hadir dan mendobrak stigma masyarakat modern saat ini yang memberikan tekanan begitu besar pada setiap anggota masyarakatnya. Seakan-akan setiap orang dipaksa untuk memacu dirinya habis-habisan agar bisa meraih kesuksesan. Dalam kehidupan sosial pun setiap orang seperti wajib untuk tampil dengan glamour agar bisa diterima dalam lingkungan pergaulan. Dan waktu selama 24 jam sehari semalam terasa tidak cukup untuk melakukan semua rutinitas dan kesibukan. Sementara orang-orang yang hidupnya dijalani dengan santai dan perlahan seakan mendapatkan cibiran dan label sebagai seorang pemalas serta kurang kerjaan. Padahal, apa salahnya menjalani kehidupan dengan lebih santai?

Terlepas dari pro dan kontra mengenai pilihan hidup yang dijalani setiap orang, buku ini tetap bisa dijadikan sebagai salah satu referensi untuk mencari makna kehidupan. Apa pun pilihan hidup yang kita jalani, tetap intinya adalah menggapai kebahagiaan dan kesenangan. Walaupun untuk menggapai tujuan tersebut setiap orang memiliki cara dan pilihannya sendiri.

Setidaknya kita bisa merenungkan kembali sebuah cerita yang mungkin sudah sering kita dengarkan dari berbagai sumber. Cerita tentang seorang pengusaha sukses dan kaya bertemu dengan seorang nelayan, lalu dia menceritakan kisah hidupnya ketika masih susah dan miskin. Secara bertahap dia mulai bekerja dan meniti setapak demi setapak perubahan hingga akhirnya bisa menjadi seorang yang sukses dan menikmati liburan sambil memancing di laut. Lalu dia menasehati agar nelayan tersebut juga mulai berusaha untuk mengikuti jejak kesuksesannya agar nanti juga bisa menikmati liburan dengan memancing seperti yang dilakukan pengusaha tersebut. Lalu nelayan tersebut bertanya, kalau tujuan akhirnya hanya agar bisa menikmati liburan sambil memancing di laut kenapa dia harus menunggu sukses dulu. Bukankah setiap hari hal tersebut sudah dilakukannya tanpa harus menunggu waktu libur?



Sumber : http://dennicandra.com/slow-living-karena-hidup-itu-berjalan-bukan-berlari-detail-425219