Rahasia #7 : Melatih Pikiran


MasterpieceMotivator

dennicandra.com, Kekuatan utama Musashi, sebagaimana yang kerap ia tegaskan, bukanlah kemampuan hebatnya dalam olah senjata, melainkan kemampuannya dalam memanfaatkan pikiran untuk mengalahkan musuh. Dan, berdasarkan berbagai catatan sejarah yang ada, jelas sekali bahwa Musashi sudah melatih pikirannya sama tekunnya dengan latihan fisik yang ia jalani sejak masih sangat muda.

Selain sebagai fungsi otomatis bagi tubuh, pikiran bisa diumpamakan sebagai software yang mengarahkan semua tindakan fisik dari tubuh kita. Sebuah stimulus eksternal akan membuat pikiran menekan sebuah tombol dan tubuh akan bereaksi dengan cara tertentu. Namun, software ini tidak serta merta mewujud dalam kemampuan yang maksimal dari otak. Ia harus terus menerus diperbaharui melalui latihan mental dan fisik yang sebaiknya dimulai sejak awal masa kanak-kanak.

Begitu software tersebut sudah terhubung dengan otak, maka ia tidak akan mudah berubah atau terhapus. Sebaliknya, ia justru bisa dikembangkan melalui berbagai latihan tambahan yang jauh lebih baik. Dengan kata lain, latihan fisik mampu mengembangkan software yang mengendalikan fungsi otak, sehingga akhirnya akan mengubah pola pikir dan pola tindakan kita.

Di awal sejarah mereka, masyarakat Jepang sudah menyadari dan memahami prinsip psikologi dan fisiologi dasar tersebut, juga sudah menciptakan sebuah sistem adat istiadat serta ritual yang secara khusus di desain untuk melatih pikiran dan tubuh. Pada beberapa praktik, termasuk membentuk keahlian seorang samurai, latihan fisik umumnya dimulai sebelum seseorang cukup dewasa – baik secara intelektual, emosional, maupun spiritual untuk membangun komitmen terhadap program latihan intensif lainnya. Saat itulah akan sangat dibutuhkan berbagai ajaran para pelatih, guru atau dalam kasus Musashi, disiplin diri yang kokoh.

Latihan mental dan fisik seorang samurai sudah dimulai di usia enam atau tujuh tahun. Seni bermain pedang dan berbagai senjata lain akan dipelajari dan dipraktikkan setiap hari selama beberapa jam.

Ketika seorang samurai menginjak usia tujuh atau delapan tahun, melatih pikiran menjadi hal yang sama pentingnya dengan menempa fisik bahkan sangat mungkin jauh lebih penting. Bagaimanapun, para samurai harus menguasai disiplin diri, sebagaimana yang ditunjukkan Musashi yang dibutuhkan untuk meraih semua tujuan dalam latihan yang mereka jalani.

Samurai muda dilatih secara psikologi maupun secara filosofis untuk menjadi seorang samurai yang rajin, tekun, bertanggungjawab, dan tidak kenal takut serta mampu memandang kematian tidak lebih dari sebuah transisi menuju tingkat eksistensi yang lain. Mereka dilatih untuk meyakini bahwa kematian jauh lebih baik daripada kegagalan dan hilangnya harga diri.

Bagian dari latihan mereka adalah mendatangi lapangan eksekusi dan mempraktikkan cara memenggal kepala dan mencabik-cabik tubuh seorang kriminal yang baru saja menjalani eksekusi mati. Bahkan, ayah atau guru yang berdedikasi akan mengajarkan anak atau muridnya untuk menjadi algojo yang bertugas memenggal kepala seorang kriminal hidup-hidup.

Pada usia lima belas tahun, para samurai muda siap menjadi samurai sejati, dan berdasarkan hukum samurai mereka harus mengenakan dua buah pedang setiap kali mereka tampil di hadapan publik, sebuah pedang panjang untuk berperang dan menegakkan hukum serta sebuah pedang pendek untuk harakiri, yaitu bunuh diri dengan cara membuat luka menganga di bagin perut.

Latihan mental ini memberikan sebuah batas serta sebuah kepastian kepada para samurai bahwa mereka harus bertindak efektif dan tegas dalam berbagai situasi sulit. Latihan mental ini terbukti merupakan hal yang sangat berharga bagi mereka bukan hanya di medan pertempuran, namun juga dalam peran mereka sebagai pemimpin dan penguasa.

Musashi sendiri menyikapi latihan mental tersebut dengan sangat tekun serta memanfaatkannya dalam semua usaha yang ia jalani. Kesuksesan Musashi jelas sekali menawarkan keteladanan yang begitu bermakna untuk menaklukkan berbagai tantangan dunia yang ada di hadapan kita saat ini.

Apa pun bidang yang Anda tekuni, jangan sekali-kali Anda mengabaikan pentingnya latihan pikiran. Pastikan bahwa latihan tersebut mencakup usaha keras dalam mengambangkan disiplin diri untuk menghadapi dan mengatasi persaingan ketat. Ingatlah selalu bahwa latihan mental harus Anda lakukan agar mampu mengembangkan fokus, energi, serta kegigihan yang diperlukan untuk mencapai kesuksesan.

Jangan lewatkan untuk bagian selanjutnya Rahasia #8 : Mengosongkan pikiran … 🙂

Mau provokasi lebih lanjut? Follow saya di twitter : @CandraDenni

(sumber bacaan : Boye de Mente. 2009. 42 Rahasia Hidup ala Samurai, Jogjakarta: Penerbit THINK)


About Denni Candra

Denni Candra adalah seorang konsultan dan penulis yang rutin menulis di beberapa media diantaranya Harian BERNAS Jogjakarta dan beberapa media lokal di Bangka serta menjadi kontributor artikel di www.level-up.id dan www.inspirasi.co. Selain itu juga fokus menjadi seorang ghost & co-writer buat siapa saja yang ingin dibantu menulis dan menyelesaikan bukunya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *