Yogyakarta & Perubahannya 3


Pulang ke kotamu,

Ada setangkup haru dalam rindu,

Masih seperti dulu, Tiap sudut menyapaku bersahabat,

Penuh selaksa makna …

dennicandra.com, Sambil bergumam melantunkan lagu lawas milik Kla Project tersebut, saya memejamkan mata sambil menikmati liukan serta desahan KA Taksaka yang membawa kami dari Gambir menuju Yogyakarta. Saya mencoba mereka-reka seperti apakah wajah daerah kekuasaan Sri Sultan tersebut saat ini. Terakhir saya mengunjungi Yogyakarta sekitar empat belas tahun silam, tepatnya di tahun 2002 ketika mengikuti Forum Komunikasi Mahasiswa Teknis Sipil (FKMTSI).

Mbok-mbok yang secara fisik dan usia sudah tidak muda lagi, tetapi tetap cekatan dan lincah berjualan melayani pembeli, canda tawa penduduk asli Yogyakarta yang senantiasa setia dengan moda transportasi andalannya yaitu sepeda, andong dan becak yang bebas berseliweran sepanjang jalanan Malioboro serta berbagai kenangan lainnya yang dipadukan dengan keramahan khas penduduknya menjadi daya tarik tersendiri bagi saya pribadi. Karena terkesan dengan itu semua maka liburan akhir tahun 2016 ini saya memboyong istri serta anak untuk ikut merasakan suasana serta nuansa etnik yang ada di Yogyakarta tersebut.

Namun memang harus diakui bahwa perkembangan zaman serta kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan sedikit banyaknya membawa perubahan termasuk terhadap Kota Yogyakarta. Suasana yang sedikit berbeda saya jumpai saat ini dengan kondisi 14 tahun yang lalu, sesuatu yang wajar karena bagaimana pun dampak perubahan tidak bisa kita pungkiri termasuk dengan Yogyakarta sendiri.

Sama dengan berbagai kota besar lainnya yang sedang bersolek, Yogyakarta juga tidak lepas dari gempuran pembangunan mall-mall besar serta pusat perbelanjaan modern. Bahkan menurut desas desus yang beredar (mudah-mudahan tidak menjadi kenyataan), akan ada pembangunan beberapa mall-mall besar lagi yang akan menghiasi wajah Yogyakarta. Selain itu jalanan Yogyakarta juga sudah dihiasi dengan kehadiran “Trans Jogja”, walau pun tidak sebesar “Trans Jakarta” tetapi lumayan untuk menjadi alternatif pilihan transportasi umum. Dengan berbagai perubahan tersebut secara tidak langsung Yogyakarta menempatkan diri sejajar dan sama dengan dengan berbagai kota besar lainnya.

Saya sudah jarang menjumpai rombongan penduduk yang bersepeda setiap paginya. Begitu juga dengan andong dan becak yang sudah mulai ditinggalkan, hanya diperuntukkan untuk para wisatawan yang ingin merasakan nuansa tradisional. Sedangkan penduduk setempat sudah beralih menggunakan Trans Jogja dan kendaraan pribadi (motor dan mobil). Sehingga tidak heran kalau jalanan Yogyakarta sekarang macetnya sudah hampir sama dengan Jakarta atau Bandung.

Malioboro yang tampilannya menjadi segar dan lebih luas karena penambahan areal untuk pejalan kali serta Pasar Beringharjo, hanya ramai dikunjungi para turis dan wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Sedangkan orang-orang Yogyakarta sendiri lebih suka memilih menyusuri deretan outlet-outlet yang ada di mall-mall yang dingin dan mewah.

Tetapi walau pun dilanda dengan berbagai perubahan serta diterpa kerasnya modernisasi saya masih berharap agar ke depannya Yogyakarta tidak melupakan konsep budaya serta tradisional yang menjadi ciri khasnya. Kalau itu dilupakan atau bahkan dihilangkan, maka Yogyakarta tidak akan berpredikat Kota Budaya Tradisional lagi sebab tidak ada lagi ciri khas yang membedakannya dengan kota lain. Semoga …!!!

Mau interaksi lebih lanjut …??? Follow saya di twitter : @CandraDenni

Bagi kamu yang ingin mengoptimalkan potensi diri guna meraih kesuksesan, jangan sampai terlewatkan untuk membaca buku terbaru saya We Are Masterpiece : 7 Langkah Mengoptimalkan Potensi Diri


About Denni Candra

Denni Candra adalah seorang konsultan dan penulis yang rutin menulis di beberapa media diantaranya Harian BERNAS Jogjakarta dan beberapa media lokal di Bangka serta menjadi kontributor artikel di www.level-up.id dan www.inspirasi.co. Selain itu juga fokus menjadi seorang ghost & co-writer buat siapa saja yang ingin dibantu menulis dan menyelesaikan bukunya.


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 thoughts on “Yogyakarta & Perubahannya

  • astrid savitri

    Setelah predikat Istimewa dimiliki kota Jogja beberapa tahun silam, mall, apartemen dan hotel kemudian terus berceceran di kota ini. Ada lelucon yg menjuluki kota budaya ini suatu saat bisa jadi akan bernama Ngayogyakarta Hoteldiningrat 🙂 .. Lain kali main juga ke Sleman, Kulon Progo, Kota Gede dan Gunung Kidul. Suasana kerinduan terhadap tradisi masih dipertahankan di sana. Nice post, mas Denni

    • Denni Candra Post author

      Memang kemarin gak sempat ke objek yang mbak Astrid sampaikan tersebut karena keterbatasan waktu serta “kegamangan” dengan kondisi Yogyakarta yang sekarang. Apalagi bertepatan dengan liburan sekolah, sehingga mau jalan kemana pun pasti disergap kemacetan … hehehe

      Terimakasih sudah berkenan mampir mbak … 🙂